Langsung ke konten utama
Peta Gedung Tua di Kota Tua

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Arsitektur Kolonial dan Konservasi

Arsitektur Kolonial dan Upaya Konservasi Cagar Budaya Bangunan PT. Samudera Indonesia Tbk di Kotatua Jakarta Oleh Ary Sulistyo [1] 1.      Arsitektur Kolonial Arsitektur era kolonial adalah arsitektur bangunan yang berkembang  pada masa koloniali Belanda di Indonesia hingga pada masa awal kemerdekaan. Arsitektur bangunan sangat terpengaruh oleh modernisme yang berkembang di Belanda. Pengaruh ini dibawa oleh arsitek Indonesia yang menempuh pendidikannya di Belanda terutama aliran perancangan arsitektur Delft dan De Stijl . Arsitektur kolonial tidak sepenuhnya meniru persis seperti yang ada di Belanda. Terdapat penyesuaian terhadap iklim tropis yang mengakibatkan penyesuaian bentuk terhadap bentuk keseluruhan bangunan maupun elemen-elemen bangunan. Menurut buku “ Masa Lalu dalam Masa Kini: Arsitektur di Indonesia ” yang ditulis oleh Peter J. M. Nas (2009: 123), ciri khas ini terlihat pada jendela crossbar yang dihias dengan anyaman rotan seba...

Jejak Islam di Nusa Tenggara Barat

MAKAM-MAKAM TUA DI PULAU SUMBAWA, NUSA TENGGARA BARAT: ARKEOLOGI ISLAM DAN SEJARAH PEMUKIMAN Oleh: Tawalinuddin Haris [1] dan Ary Sulistyo [2] Pendahuluan: Bukti-bukti Makam Tua Penelitian ini berlokasi di Sumbawa Besar yang berada di makam Sultan-Sultan Sumbawa di Bukit Sampar dipinggiran Kota Sumbawa Besar, Makam di Desa Mama, Kecamatan Lape, dan Makam Karongkeng di Desa Karongkeng di Kecamatan Empang (Sumbawa Besar), dan Makam Datu Seran, Makam Datu Taliwang, dan Makam Datu Jereweh di Kabupaten Sumbawa Barat. Selain itu terdapat juga Makam Keramat Raja di Desa Selaparang, Kabupaten Pringgabaya, Lombok Timur, NTB. Pada penelitian yang dilaksanakan pada tanggal 15 sampai dengan 25 Agustus tahun 2011 ini , lebih bersifat deskriptif, yakni berupa survei permukaan ( non digging research ) dimana hanya melihat situs yang insitu , b aik berdasarkan laporan-laporan terdahulu maupun yang ditemukan di lapangan. Penelitian ini melihat pada aspek kronologi/angka tahun pada...

Toponimi

Toponimi:  Penamaan dan Pemaknaan Kawasan untuk Pembangunan  Oleh: Ary Sulistyo [1] Toponimi berasal dari bahasa Yunani, topos yang berarti tempat dan onoma yang berarti nama. Kini toponimi diartikan sebagai bahasan ilmiah tentang nama tempat, asal usul, arti, penggunaan, dan tipologinya. Suatu toponimi merupakan nama dari tempat, wilayah, atau suatu bagian lain dari permukaan bumi, termasuk yang bersifat alami (seperti   sungai ) dan yang buatan (seperti   kota ). Jawatan topografi Belanda yang dibentuk akhir abad 19. Jawatan topografi Belanda bernama Topografisch Dienst dibawah Departemen Van Oorlog KNIL . Pada masa pendudukan Jepang bernama Sokuryo Kyoku hingga pada tahun 1945. Pada mulanya pemetaan pada masa Herman Willem Daendels (1808-1811) masih sangat terbatas, baru sebatas Jawa dan Madura dan untuk kepentingan militer. Nama unsur rupabumi (topografis) yang baku akan dihimpun dalam suatu gazetir [2] , baik ditingkat pusat maupun daerah. Harus ...